2026.08.24 E-commerce FMCG Indonesia Tumbuh 29,4% di Semester I, Kategori Perawatan Rumah Memimpin dengan Kenaikan 78%

E-commerce FMCG Indonesia Tumbuh 29,4% di Semester I, Kategori Perawatan Rumah Memimpin dengan Kenaikan 78%
Data Compas.co.id menunjukkan transaksi FMCG (produk kebutuhan sehari-hari) di platform e-commerce Indonesia mencapai Rp88,4 triliun pada paruh pertama 2026, tumbuh 29,4% secara tahunan. Kelima kategori utama mencatat kenaikan baik dari segi volume maupun nilai. Kategori perawatan rumah memimpin dengan pertumbuhan 78,3%, disusul makanan dan minuman yang naik 52,1%, serta kecantikan dan perawatan diri yang tumbuh 20,8%. Lonjakan signifikan terjadi pada air mineral (+219%) dan minyak goreng (+123%) berkat momen Ramadan dan Idulfitri. Pangsa pasar sangat terkonsentrasi: Shopee bersama TikTok Shop/Tokopedia menguasai 99% penjualan FMCG. Kondisi ini menunjukkan bahwa produk kebutuhan pokok dan perawatan rumah masih menjadi motor pertumbuhan belanja online di Indonesia, tetapi penjual harus siap bersaing ketat di platform dominan.
Anjing AI 'Motutu' dari Yiwu Viral, Kurang dari 500 Yuan Menarik Pembeli Timur Tengah dan Asia Tenggara
Seekor anjing pendamping bertenaga AI bernama 'Motutu' dari Yiwu tengah menjadi perbincangan hangat. Dengan harga kurang dari 500 yuan, produk ini mampu memahami perintah berurutan, melakukan percakapan multi-ronde, serta melakukan salto ke belakang. Pihak pengembang berhasil menekan biaya sistem AI menjadi hanya 20-30 yuan sehingga harga jual dapat dipertahankan di bawah 500 yuan. Di pameran, calon pembeli dari Timur Tengah dan Asia Tenggara antre panjang untuk mencoba dan menanyakan harga. Selain Motutu, toko tersebut juga memamerkan robot layanan yang bisa menari dan anjing yang bisa melakukan push-up. Bagi penjual lintas batas, produk AI dengan harga terjangkau seperti ini menunjukkan peluang pasar yang besar untuk kategori mainan dan gawai konsumen di Asia Tenggara.
Indonesia Rencanakan Potongan 50% Biaya Layanan untuk UMKM Lokal di Shopee dan TikTok Shop
Kementerian Koperasi dan UKM Indonesia berencana menandatangani peraturan menteri pada 24 atau 25 Agustus 2026. Aturan ini memberikan potongan hingga 50% biaya layanan di platform e-commerce seperti Shopee dan TikTok Shop bagi usaha mikro dan kecil yang menjual produk lokal. Kebijakan tersebut dijadwalkan berlaku akhir Agustus. Pelaku usaha yang memenuhi syarat harus mengajukan permohonan melalui sistem 'SAPA UMKM', dengan menyatakan bahwa produk yang dijual adalah buatan dalam negeri. Verifikasi dilakukan oleh pemerintah dan platform; setelah disetujui, diskon berlaku mulai bulan berikutnya. Bagi penjual lokal, langkah ini dapat menurunkan biaya operasional secara signifikan. Sementara penjual lintas batas perlu memahami bahwa regulasi ini memperkuat proteksi terhadap produk lokal dan dapat meningkatkan persaingan bagi barang impor di platform tersebut.
Asosiasi Ritel Thailand Desak Regulasi Produk Lintas Batas Berharga Murah
Asosiasi Ritel Thailand (TRA) menyoroti pertumbuhan penjualan ritel online yang mencapai 23,5%, jauh melampaui ritel fisik yang hanya tumbuh 7,5%. Banjir produk lintas batas berharga murah dinilai menekan ruang gerak sekitar 3,3 juta UMKM lokal. TRA menyebut sebagian penjual lintas batas memanfaatkan perbedaan regulasi untuk menghindari biaya kepatuhan seperti pajak, izin usaha, dan sertifikasi produk, menciptakan persaingan tidak sehat. Asosiasi mendesak pemerintah membentuk kerangka pengawasan standar yang seragam. Semua produk asing yang dijual online wajib memenuhi sertifikasi keamanan dan kualitas yang setara dengan produk lokal. Selain itu, pengelolaan pajak e-commerce harus diperketat dengan mewajibkan platform bertanggung jawab memungut dan menyetorkan pajak impor. Bagi penjual lintas batas, hal ini menandakan biaya kepatuhan di Thailand akan semakin ketat.