Data Shopee yang Masih Belum Dimanfaatkan
Halo, saya David. Saya sudah menjalankan toko Shopee sendiri selama lebih dari tiga tahun, dan seperti kebanyakan seller, saya tidak memulai dengan "data". Saya memulai dengan naluri. Di awal, Shopee terasa sederhana. Kamu pasang produk, ubah harga, jalankan iklan, dan tunggu. Ketika sesuatu laku, kamu gandakan upaya. Kalau tidak, kamu cari yang lain. Untuk beberapa waktu, itu berhasil. Tapi akhirnya, toko saya mentok. Penjualan jadi tidak konsisten, dan setiap keputusan mulai terasa seperti taruhan. Saat itulah saya menyadari sesuatu yang tidak nyaman: Saya tidak kekurangan usaha — saya kekurangan data Shopee yang sebenarnya. Dan tidak, yang saya maksud bukan angka-angka di dalam Seller Center.
Data Shopee yang Dikira Dimiliki Seller (Padahal Tidak)
Shopee memberikan banyak angka kepada seller. Pesanan, klik, impresi, tingkat konversi — semuanya berguna, tapi sangat terbatas. Semua yang kamu lihat hanyalah toko kamu sendiri, SKU kamu sendiri, performa kamu sendiri.
Yang tidak kamu lihat adalah pasar. Kamu tidak tahu berapa banyak produk serupa yang terjual di seluruh Shopee. Kamu tidak tahu apakah suatu kategori sedang tumbuh atau diam-diam menurun. Kamu tidak tahu apakah pesaing menang karena permintaan — atau karena mereka masuk lebih awal.
Lama sekali, saya mengira "punya data" sama dengan "punya visibilitas". Kenyataannya, saya mengambil keputusan dalam kegelapan. Di situlah pemahaman saya tentang data Shopee benar-benar berubah.
Mengapa Data Shopee Tingkat Pasar Mengubah Segalanya
Perubahan pertama bagi saya datang ketika saya berhenti bertanya, "Bagaimana performa produk saya?" dan mulai bertanya, "Apa yang sedang dilakukan pasar?"
Ini perbedaan yang kritis. Ketika kamu hanya melihat angka milikmu sendiri, setiap hasil terasa personal. Penurunan penjualan terasa seperti kegagalan. Lonjakan terasa seperti kesuksesan. Tapi tanpa data Shopee tingkat pasar, kamu tidak tahu apakah perubahan itu disebabkan oleh musiman, persaingan, atau pergeseran permintaan yang nyata.
Menggunakan fitur Product Research dari Shopdora adalah pertama kalinya saya bisa keluar dari toko saya sendiri dan melihat Shopee secara keseluruhan. Daripada menebak produk mana yang "panas", saya bisa menyaring berdasarkan situs, kategori, volume penjualan, tingkat pertumbuhan, rentang harga, bahkan berapa lama produk telah terdaftar. Tiba-tiba, keputusan produk berhenti menjadi emosional.
Dari "Ini Kelihatan Menjanjikan" Menjadi "Ini Terbukti"
Sebelumnya, proses pemilihan produk saya kebanyakan meniru pola. Saya lihat sesuatu yang tren, berasumsi itu akan terus laku, dan buru-buru mencari sumbernya. Kadang berhasil. Seringnya, tidak.
Dengan data Shopee berbasis Product Research, saya mulai memperhatikan pola yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Misalnya, beberapa produk punya total penjualan yang impresif tapi hampir tidak ada pertumbuhan baru-baru ini. Yang lain punya angka penjualan biasa saja tapi momentum naik yang kuat dan listing yang relatif baru.
Perbedaan itu lebih penting daripada yang disadari kebanyakan seller. Satu kategori produk yang saya pertimbangkan terlihat jenuh sekilas. Penjualan tinggi di mana-mana. Tapi ketika saya selidiki lebih dalam, saya perhatikan bahwa sebagian besar pendapatannya terkonsentrasi pada listing lama, sementara produk baru kesulitan mendapat daya tarik. Itu bukan "ceruk panas" — itu adalah kategori matang dengan sedikit ruang untuk pendatang baru.
Tanpa data Shopee di tingkat pasar, saya akan masuk dengan buta.
Data Shopee Tingkat Kategori Mengungkap Apa yang Halaman Produk Tidak Bisa
Data tingkat produk memang kuat, tapi tidak lengkap tanpa konteks kategori. Di sinilah Category Research menjadi salah satu fitur yang paling sering saya gunakan di dalam Shopdora.
Daripada bertanya apakah satu produk bisa laku, saya mulai bertanya apakah kategori itu sendiri layak untuk waktu saya.
Data Shopee tingkat kategori menunjukkan hal-hal yang jarang dilihat kebanyakan seller: seberapa terkonsentrasi penjualan di antara produk-produk teratas, berapa banyak toko dan merek yang mendominasi ruang itu, seberapa cepat kategori itu tumbuh, dan bagaimana performa produk baru sebenarnya.
Saya pernah mundur dari kategori yang terlihat menarik di permukaan tapi punya konsentrasi yang sangat tinggi — artinya beberapa produk teratas menguasai sebagian besar penjualan. Bersaing di sana akan membutuhkan anggaran dan sumber daya yang tidak saya miliki. Di sisi lain, saya menemukan kategori dengan ukuran sedang, pertumbuhan stabil, dan performa produk baru yang sehat. Kategori-kategori itu tidak terlihat menarik di media sosial, tapi seringkali di situlah keuntungan berkelanjutan berada.
Data Traffic: Lapisan yang Hilang yang Diabaikan Kebanyakan Seller
Bahkan dengan produk bagus dan kategori yang menjanjikan, saya masih bergumul dengan satu pertanyaan: mengapa beberapa listing mudah dapat traffic sementara yang lain tidak?
Di sinilah Traffic Analysis melengkapi gambaran. Traffic Shopee bukan cuma tentang iklan. Traffic organik, eksposur kata kunci, dan perilaku pencarian memainkan peran besar, tapi seller jarang melihat ini dengan jelas. Traffic Analysis membantu saya memahami kata kunci mana yang benar-benar mendatangkan traffic, kata kunci mana yang diandalkan pesaing, dan di mana celahnya.
Lebih penting lagi, itu menunjukkan kapan penjualan suatu produk didorong oleh traffic berbayar versus permintaan organik. Perbedaan itu mengubah cara kamu menetapkan harga, mengoptimalkan listing, dan apakah suatu produk bisa diskalakan dalam jangka panjang.
Tanpa data Shopee tingkat traffic, banyak seller akhirnya mengucurkan uang ke iklan tanpa sadar mereka melawan permintaan yang lemah.
Bagaimana Data Shopee Mengubah Gaya Pengambilan Keputusan Saya
Perubahan terbesar bukan taktis — tapi psikologis. Begitu saya punya akses ke data Shopee nyata di seluruh produk, kategori, dan traffic, saya berhenti mengejar "peluang" dan mulai mengevaluasi risiko. Setiap keputusan jadi lebih tenang. Bahkan lebih membosankan. Dan itu hal yang baik.
Saya tidak lagi meluncurkan produk karena rasanya seru. Saya meluncurkannya karena data menceritakan kisah yang koheren: permintaan ada, persaingan bisa dikelola, dan sumber traffic bisa diidentifikasi.
Shopdora tidak membuat keputusan itu untuk saya. Ia hanya membuat pasar terlihat.
Data Shopee Bukan Tentang Angka — Tapi Tentang Konteks
Jika ada satu hal yang saya harap lebih dipahami seller, inilah itu: data Shopee bukan sekadar metrik di dashboard. Itu adalah konteks.
Konteks memberitahumu apakah minggu yang buruk itu salahmu atau salah pasar. Konteks memberitahumu apakah produk yang menang itu bisa diulang atau cuma kebetulan. Konteks memberitahumu kapan harus mendorong lebih keras — dan kapan harus mundur.
Seller Center tidak akan pernah memberimu perspektif itu. Alat seperti Shopdora ada tepat karena seller butuh cara untuk melihat melampaui toko mereka sendiri.
Kamu tidak perlu menggunakan setiap fitur. Saya juga tidak. Tapi jika kamu serius ingin berkembang di Shopee, mengandalkan hanya data internal itu seperti navigasi dengan setengah peta.
Pikiran Terakhir
Lama sekali, saya pikir pengalaman berarti mempercayai naluri. Sekarang saya pikir pengalaman berarti tahu kapan tidak melakukannya. Data Shopee, jika digunakan dengan benar, tidak menghilangkan intuisi — ia mempertajamnya. Ia mencegahmu membuat kesalahan mahal yang sama berulang kali.
Jika kamu merasa mentok, tidak pasti, atau terus bereaksi terhadap pesaing, masalahnya mungkin bukan eksekusimu. Mungkin cuma karena kamu kehilangan gambaran besarnya. Dan begitu kamu akhirnya melihat pasar dengan jelas, segalanya menjadi lebih mudah.
— David